Gaya Switcher

Memilih gaya Warna

Untuk pengalaman yang lebih baik silakan anda dengan mengubah pengaturan browser untuk CHROME, FIREFOX, OPERA atau Internet Explorer.
RECOVERY BISNIS MODEL CANVAS UNTUK UMKM  PADA SAAT PANDEMI COVID-19

RECOVERY BISNIS MODEL CANVAS UNTUK UMKM PADA SAAT PANDEMI COVID-19

Oleh : Sri Hartati*

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan usaha ekonomi produktif yang dimiliki perorangan atau badan usaha yang dikategorikan sebagai usaha mikro dan menengah. UMKM sangat dominan di Indonesia dan tumbuh pesat seiring dengan munculnya banyak potensi dan peluang usaha di berbagai daerah. Menurut Leo Safar (2018:1) peranan UMKM cukup tinggi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada saat ini UMKM menjadi tulang punggung perekenomian Indonesia karena dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak serta tahan dalam kondisi krisis ekonomi.Namun saat pandemi COVID-19 melanda Indonesia peranan UMKM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tidak sesuai harapan . Hal ini diakibatkan banyaknya UMKM yang terganggu aktivitas usahanya bahkan ada yang berhenti total.Hal ini senada dengan hasil penelitian LPFE Unpad, tahun 2020 menyampaikan adalam hasil penelitiannya bahwa UMKM yang berhenti total  beroperasi  sebanyak 47 %, sedangkan yang beroperasi sebanyak 53%. Ditinjau dari karyawannya bahwa 75,57 persen UMKM telah merumahkan karyawannya, yang masih memperkerjakan karyawannya secara utuh sebanyak 24,3%. Ditinjaui aspek pendapatan sebanyak 84.6% UMKM terjadi  penurunan pendapatan lebih dari 30% dan hanya 3,4 persen UMKM yang tidak terdampak oleh adanya wabah COVID-19.

Dalam Outlook Ekonomi OECD terakhir (OECD, 2020), pertumbuhan PDB global tahunan diproyeksikan turun menjadi 2,4% pada 2020, dari yang sudah lemah 2,9% pada 2019, dengan kemungkinan kontraksi PDB pada kuartal pertama 2020 (Matteo Lucchese,2020).Lebih lanjut diperkirakan bahwa ini akan sama dengan penurunan pertumbuhan PDB tahunan hingga 2 poin persentase untuk setiap bulan bahwa langkah-langkah itu ada jika tidak ada langkah-langkah dukungan kebijakan. (Heli Simola,2020).Penurunan pertumbuhan PDB tersebut salah satu akibat menurunnya kinerja usaha UMKM karena munculnya pandemi COVID-19.

Kajian yang dibuat oleh Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 memberikan implikasi negatif bagi perekonomian domestik seperti penurunan konsumsi dan daya beli masyarakat, penurunan kinerja perusahaan, ancaman pada sektor perbankan dan keuangan, serta eksistensi UMKM. Pada aspek konsumsi dan daya beli masyarakat, pandemi ini menyebabkan banyak tenaga kerja berkurang atau bahkan kehilangan pendapatannya sehingga berpengaruh pada tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat terutama mereka yang ada dalam kategori pekerja informal dan pekerja harian.

Banyaknya UKM yang terdampak Covid-19 ini,membuat para pelaku UKM harus membuat langkah komunikasi bisnis yang tepat sesuai kondisi saat ini sehingga bisnis UKM mampu bertahan. Kementrian Koperasi dan UKM menyiapkan 8 program khusus sebagai upaya untuk engantisipasi dampak ekonomi wabah COVID-19 terhadap pelaku Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementrian Koperasi dan UKM,2020) yaitu :

  1. Memberikan stimulus daya beli UMKM
  2. Mengefektifkan program social distancing dengan tetap membuka warung
  3. Program restrukturisasi dan subsidi suku bunga kredit usaha mikro yang   sampai saat ini masih dibahas dengan Kementerian Keuangan.
  4. Restrukturisasi kredit yang khusus bagi koperasi melalui LPDB KUMKM
  5. Mmengajak UMKM di berbagai daerah untuk memproduksi.masker, hand sanitizer, dan alat pelindung diri (APD) yang dibutuhkan tenaga kesehatan saat ini.
  6. Memasukkan sektor mikro yang jumlahnya cukup banyak dan paling rentan terdampak Covid-19 dalam klaster penerima kartu Prakerja untuk pekerja harian.
  7. Memberikan bantuan langsung tunai
  8. Relaksasi pajak penghasilan impor,pph 21 dan pph 25

Lalu langkah  bisnis apa yang harus dilakukan oleh UMKM pada pandemi COVID-19 saat ini?

Bisnis model seperti apakah yang harus dibuat dan dilakukan oleh UMKM? 

Bisnis Model adalah gambaran singkat terkait proses bisnis yang akan dilakukan. Bisnis model ini lebih singkat penyajiannya dibanding dengan business plan yang selama ini dibuat oleh UMKM.Bisnis model yang sekarang banyak digunakan oleh UMKM maupun start-up bisnis lainnya dikenal dengan Business Model Canvas (BMC).Untuk UMKM yang selama ini sudah menggunakannya maka pada saat pnademi COVID-19 perlu adanya pemulihan (recovering), dimana BMC perlu disesuaikan dengan kondisi saat ini.Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi agar proses bisnis dapat terus dilakukan.

Mengapa perlu melakukan recovery BMC?

Sebagaimana kita ketahui bhawa saat pandemi COVID-19 semua aktivitas dibatasi dengan adanya  peraturan sosial distancing bahkan phisical distancing atau dikenal juga dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Adanya peraturan ini mengakibatkan gerak UMKM menjadi terhambat terutama dalam megakses bahan baku,produksi dan pemasaran. Situasi tersebut mengakibatkan para pelaku UMKM berupaya untuk mengantisipasi dan mencari solusi bagiaman agar produksi dan pemasaran tetap bisa dilakukan. Salah satu yang perlu dilakukan adalah melalui perubahan bisnis model.

Langkah utama dari pemulihan BMC adalah menganalisa point –point yang mana saja yang perlu diubah secara dratis. Misalnya dari proses penjualan, UMKM dapat mengubahnya dengan melakukan penjulalan secara keseluruhan (90 %) melalui online .Kemudian memilih media online mana saja yang akan digunakan untuk pemasaran produk UMKM. Recovery ini bisa dilakukan terhadap semua segmen dalam BMC atau hanya segmen tertentu saja tergantung kekuatan yang dimiliki dan sudah dilakukan olah UMKM. Pada saat pandemi COVID-19 segmen yang krusial untuk dilakukan adalah mengubah media penjualan yang sebelumnya lebih banyak offline menjadi online (90%) Untuk lebih jelasnya berikut disampaikan  Recovery BMC UMKM produk Makanan yang sudah dilakukan oleh salah satu UMKM di Kota Bandung.

Tabel Bisnis Model Canvas Produk Makanan

Key Patnership pengusaha yang sama atau pengusaha lain dalam penyediaan bahan baku dan pemasaran produk Pengelola IT(Website) Peneglola             E-CommerceKey Activities Promosi melalui media sosial serta e-commerce                (90 %) Media offline (10%)Value Propositions Kualitas prooduk lebih tahan lama (expire), Frozen produk Memiliki izin, PIRT, Penambahan inovasi produk sesuai kebutuhan di saat pandemi  Costumer Relationship Penjualan lebih banyak melalui online, Adanya diskon, Free ongkir dengan  batasan wilayahCustomer Segmen   Pencinta makanan Menyukai frozen food   Takut keluar rumah untuk berbelanja karena adanya pandemi 
Key Resources Memaksimal     kan SDM yang adaChannels Media online (WA,Instagram,Line,Facebook) e-commerce 
Cost Structure Gaji Karyawan       4. Biaya Promosi Biaya produksi       5. Biaya operasional Biaya produksiRevenue Streams Penjualan Produk siap sajiPaket prozen foodPaket masker,handsanitizer

Sumber : Data diolah

*  Dosen School Of business and Management,Institut Teknologi Bandung,Indonesia, Pengurus Pusat Asosiasi pemandu Wirausaha Indonesia. sri.hartati@sbm-itb.ac.id

tinggalkan komentar anda

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *

Atas
Butuh bantuan?Chat with us
Harap terima kebijakan privasi kami terlebih dahulu untuk memulai percakapan.