Gaya Switcher

Memilih gaya Warna

Untuk pengalaman yang lebih baik silakan anda dengan mengubah pengaturan browser untuk CHROME, FIREFOX, OPERA atau Internet Explorer.
PERUBAHAN PARADIGMA BISNIS UMK DAN PERILAKU KONSUMEN PADA ERA NEW NORMAL

PERUBAHAN PARADIGMA BISNIS UMK DAN PERILAKU KONSUMEN PADA ERA NEW NORMAL

Oleh : Kartib Bayu

Perusahaan termasuk usaha mikro dan kecil memproduksi barang atau jasa pada dasarnya adalah untuk  membantu memenuhi kebutuhan masyarakat atau konsumen.  Apa yang dibutuhkan konsumen, perusahaan memenuhinya, karena konsumenlah yang akan menggunakan dan membayar barang/jasa yang diproduksi.  Artinya barang dan jasa yang diproduksi disesuaikan dengan permintaan konsumen (orientasi pasar). Konsumen menginginkan kualitas produk, harga, tempat memperoleh barang/jasa, dan pelayanan yang terbaik dari perusahaan. Tugas perusahaan adalah memenuhi permintaan konsumen dengan produk, harga, tempat dan layanan terbaik sehingga konsmuen merasa puas dan loyal. Oleh karena itu perusahaan harus mampu dan memahami tentang perubahan permintaan, gaya hidup dan perilaku konsumen yang senantiasa berubah.

Situasi saat ini di mana wabah pandemi Covid-19  yang merebak di Indonesia semenjak awal bulan Maret 2020 belum bisa ditentukan kapan berakhirnya. Keadaan seperti itu pada akhirnya masyarakat Indonesia harus bisa berdaptasi dengan keadaan yang baru. Di mana ada beberapa hal baru yang harus ditegakkan di tengah rutinitas yang selama ini dikerjakan. Beberapa bentuk perubahan atau transformasi baru inilah yang kemudian melahirkan istilah “New Normal”, yakni perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan virus corona jenis baru, penyebab COVID-19. Kondisi tersebut  secara mendalam akan membentuk stay @ home lifestyle yang bakal menjadi kenormalan baru atau new normal pada konsumen setelah krisis berlalu. Artinya, gaya hidup baru inilah yang akan menjadi landasan terbentuknya stay @ home economy. Hal inilah yang mendasari para pelaku usaha harus melakukan perubahan pola dan oriemtasi usaha dengan menyesuaikan dengan pola perilaku konsumen yang berubah pada new normal.

Beberapa perubahan perilaku konsumen akibat adanya dampak Covid-19 yang dikenal dengan  new normal seperti yang diprediksi oleh Yuswohady (2020) yang harus diketahui, di pahami dan diantisipasi oleh pelaku UMK yaitu :

  1. The Fall of Mobility, The Rise of Stay @ Home

Wabah Covid-19 praktis menghentikan mobilitas dan memaksa orang untuk berdiam diri di rumah. “the death of mobility“. Krisis COVID-19 membawa manusia seperti kembali ke zaman purba dimana hidupnya hanya di gua, yaitu rumah. “Welcome stay @ home economy.”

2. Online-Shopping Widening+Deepening: From Wants to Needs

Pembelian online (online shopping) mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk yang sifatnya adalah kebutuhan (needs). Belanja online konsumen melebar (widening) dari  barang-barang non-esensial ke esensial (daily needs), dan mendalam (deepening) dimana volume pembeliannya makin besar. 

3.  Food Delivery: From “Indulgence” to “Utility”

Konsumen menghindari eating out dan beralih ke layanan delivery. Selama ini konsumen memanfaatkan layanan delivery untuk jenis makanan “indulgence” yaitu untuk pleasure dan enjoyment (seperti: boba tea, pizza, burger, atau ayam geprek) akan bergeser ke “utility” untuk kebutuhan rutin sehari-hari. Dari pemesanan sesekali (occasional) ke pemesanan berulang (habitual/routine).

4. The Comeback of Home Cooking

Memiliki waktu cukup luang di rumah selama pandemi memberikan kesempatan bagi milenial mengasah keahlian baru yaitu masak. Dalam Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan milenial “membunuh” home cooking karena emak-emak milenial semakin kehilangan kemampuan memasak. Namun rupanya COVID-19 “menghidupkannya” kembali. 

5. Frozen Food: Convenience Solution

Emak-emak milenial sudah terlanjur tidak piawai memasak. Walaupun stay @ home menjadi momentum comeback-nya kebiasaan memasak, namun gaya memasak milenial berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih suka memasak yang simple dan convenient. Maka frozen food dan kemasan ready to cook akan menjadi pilihan. 

6. Going Omni

Dengan matangnya online shopping akibat COVID-19, maka brand-brand besar-menengah-kecil mulai hadir dengan platform omni channel-nya sendiri baik via website atau e-commerce dan tentu physical channels. Mereka tak bisa lagi cuma mengandalkan marketplace besar yang sudah ada. Ingat, customer data is the new gold.

7. Subscription Model Matters

COVID-19 memaksa konsumen membeli dan mengkonsumsi secara serba online: Belanja grocery, menikmati film/musik, membeli makanan, bekerja dan belajar, bermain games, bahkan berolahraga dan yoga pun melalui live class secara online. Tak hanya, belanja online itu dilakukan secara rutin tiap hari atau berkala tiap minggunya. Karena kebutuhannya rutin dan terus menerus, model pembelian berlangganan akan lebih cocok dan efisien.

8. TV Strikes Back

Dalam buku Milenial Kills Everything (2019) kami mengatakan bahwa milenial telah membunuh televisi. Tapi, COVID-19 telah menghidupkannya kembali, khusunya smart TV. TV memiliki keunggulan dasar yang tak mungkin dimiliki smartphone yaitu layar besar yang lebih ramah dilihat. Karena itu memasuki era “the death of mobility” akibat social distancing, TV menemukan momentumnya kembali. 

9. Do It Yourself  & Self-Care @ Home

Ketika konsumen sudah terbiasa dengan stay @ home maka mereka mulai mencoba berbagai hal baru yang menyenangkan. Salah satunya melakukan self-care atau peremajaan diri seperti facial, meni-pedi, spa. Maka tren do it yourself (DIY) ini dapat menjadi kenormalan baru dan pembelian produk-produk self-care secara otomatis mengalami kenaikan. 

10. The Century of Self Distancing

Begitu wabah COVID-19 berlalu, tak serta-merta orang berinteraksi fisik seperti sediakala. Bayang-bayang kematian akibat virus akan terus menghantui. Self-distancing akan menjadi kebiasaan permanen. Memakai masker, mencuci tangan setiap saat, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan akan menjadi kenormalan baru.

11. Halal (Thoyyiban) Becomes Mainstream

Kita tidak tak akan pernah lupa dengan kota Wuhan terutama pasarnya yang menjadi awal mula penyebaran virus. Khususnya kaum muslim, bayangan muram pasar Wuhan adalah wujud dari penyiapan dan pengolahan makanan yang tidak mengikuti prinsip-prinsip halal dan thoyyiban. Maka COVID-19 pun membawa hikmah bagi kaum muslim, yaitu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya halal dan thoyyiban.

13. Paylater Solution

Di tengah kecemasan dan ketidakpastian akibat COVID-19, sebisa mungkin konsumen membatasi atau menunda pengeluaran yang bersifat cashIn time of crisis cash is king.  Maka layanan paylater yang diberikan oleh bank, perusahaan fintech, dan platform ecommerce seperti GoPay, OVO, atau Tokopedia menjadi solusi bagi konsumen untuk berbagai transaksi. 

14. Zoomable Workplace @ Home

Work from Home memunculkan tren baru “zoomable workplace“ di rumah. Kalau sebelumnya populer istilah “instagramable” maka kini ada istilah tempat kerja di rumah yang “zoomable“. Tren ini dipicu oleh popularitas aplikasi Zoom untuk meeting virtual. Mendekorasi ruang kerja yang eye-catching sebagai background meeting. IKEA atau Informa bakal makin ramai pembeli. Tanpa disadari hal ini telah menjadi kebutuhan self-esteem

Bedasarkan prediksi atau kecenderungan perubahan perilaku konsumen pada new normal pasca pandemi Covis-19, maka pelaku UMK saat ini harus dapat menyesuaian dan mengantisipasi dengan keadaan perilaku konsumen tersebut dengan melakukan perubahan paradigma dan orientasi usaha. Perubahan yang bisa dilakukan oleh pelaku UMK antara lain perubahan dari jenis produk, ketahanan produk, bentuk produk, keamanan produk, manfaat produk, cara promosi, cara pemasaran dari offline ke online, saluran pemasaran , Teknik pelayanan terhadap konsumen dan perubahan lainnya. 

Mudah-mudahan memberikan pencerahan dan pemahaman bagi para pemandu wirausaha sebagai bekal untuk untuk melakukan pembinaan dan acuan bagi para pelaku usaha untuk melakukan perubahan orinetasi usaha di masa new normal.

Bahan Refernsi

https://infobrand.id/memprediksi-perubahan-perilaku-konsumen-di-new-normal.phtmlhttps://news.detik.com/berita/d-5015960/ct-new-normal-akan-mengubah-paradigma-bisnis

tinggalkan komentar anda

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *

Atas
Butuh bantuan?Chat with us
Harap terima kebijakan privasi kami terlebih dahulu untuk memulai percakapan.